Prinsip Dasar Muamalah dalam Islam

Penyusun : Sumardi December 12, 2017

Secara umun pengertian Fiqih muamalah adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan tindakan manusia dalam persoalan keduniaan, misalnya dalam persoalan jual beli, hutang piutang, kerja sama dagang, perserikatan, kerja sama dalam penggarapan tanah, dan sewa menyewa.

Shahhathah (Al-Ustaz Universitas Al-Azhar Cairo) dalam buku Al-Iltizam bi Dhawabith asy-Syar’iyah fil Muamalat Maliyah (2002) mengatakan, “Fiqh muamalah ekonomi, menduduki posisi yang sangat penting dalam Islam. Tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam aktivitas muamalah, karena itu hukum mempelajarinya wajib ‘ain (fardhu) bagi setiap muslim.

Husein Shahhatah, selanjutnya menulis, “Dalam bidang muamalah maliyah ini, seorang muslim berkewajiban memahami bagaimana ia bermuamalah sebagai kepatuhan kepada syari’ah Allah. Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini, maka ia akan terperosok kepada sesuatu yang diharamkan atau syubhat, tanpa ia sadari. Seorang Muslim yang bertaqwa dan takut kepada Allah swt, Harus berupaya keras menjadikan muamalahnya sebagai amal shaleh dan ikhlas untuk Allah semata”

Memahami/mengetahui hukum muamalah maliyah wajib bagi setiap muslim, namun untuk menjadi expert (ahli) dalam bidang ini hukumnya fardhu kifayah.

Oleh karena itu, Khalifah Umar bin Khattab berkeliling pasar dan berkata: “Tidak boleh berjual-beli di pasar kita, kecuali orang yang benar-benar telah mengerti fiqh (muamalah) dalam agama Islam” (H.R.Tarmizi).

Sehubungan dengan itulah Dr.Abdul Sattar menyimpulkan Muamalat adalah inti terdalam dari tujuan agama Islam untuk mewujudkan kemaslahatan manusia. Menurut Wahbah Zuhaili, hukum muamalah itu terdiri dari hukum keluarga, hukum kebendaan, hukum acara, perundang-undangan, hukum internasional, hukum ekonomi dan keuangan.

4 Prinsip Muamalah dalam Islam Pada dasarnya segala bentuk muamalat adalah mubah, kecuali yang ditentukan oleh al-qur’an dan sunnah rasul. Bahwa hukum islam memberi kesempatan luas perkembangan bentuk dan macam muamalat baru sesuai dengan perkembangan kebutuhan hidup masyarakat.

Muamalat dilakukan atas dasar sukarela , tanpa mengandung unsur paksaan. Agar kebebasan kehendak pihak-pihak bersangkutan selalu diperhatikan.

Muamalat dilakukan atas dasar pertimbangan mendatangkan manfaat dan menghindari madharat dalam hidup masyarakat. Bahwa sesuatu bentuk muamalat dilakukan ats dasar pertimbangan mendatangkan manfaat dan menghindari madharat dalam hidup masyarakat.

Muamalat dilaksanakan dengan memelihara nilai keadilan, menghindari unsur-unsur penganiayaan, unsur-unsur pengambilan kesempatan dalam kesempitan. Bahwa segala bentuk muamalat yang mengundang unsur penindasan tidak dibenarkan.

5 Batasan Muamalah dalam Islam Setelah mengenal secara umum apa saja yang dibahas dalam fiqh muamalat, ada prinsip dasar yang harus dipahami dalam berinteraksi.

Ada 5 hal yang perlu diingat sebagai landasan tiap kali seorang muslim akan berinteraksi. Kelima hal ini menjadi batasan secara umum bahwa transaksi yang dilakukan sah atau tidak, lebih dikenal dengan singkatan MAGHRIB, yaitu Maisir, Gharar, Haram, Riba, dan Bathil.

1. Maisir Menurut bahasa maisir berarti gampang/mudah. Menurut istilah maisir berarti memperoleh keuntungan tanpa harus bekerja keras. Maisir sering dikenal dengan perjudian karena dalam praktik perjudian seseorang dapat memperoleh keuntungan dengan cara mudah. Dalam perjudian, seseorang dalam kondisi bisa untung atau bisa rugi. Padahal islam mengajarkan tentang usaha dan kerja keras. Larangan terhadap maisir / judi sendiri sudah jelas ada dalam AlQur’an (2:219 dan 5:90)

2. Gharar Menurut bahasa gharar berarti pertaruhan. Terdapat juga mereka yang menyatakan bahawa gharar bermaksud syak atau keraguan.[3] Setiap transaksi yang masih belum jelas barangnya atau tidak berada dalam kuasanya alias di luar jangkauan termasuk jual beli gharar. Boleh dikatakan bahwa konsep gharar berkisar kepada makna ketidaktentuan dan ketidakjelasan sesuatu transaksi yang dilaksanakan, secara umum dapat dipahami sebagai berikut : sesuatu barangan yang itu wujud atau tidak; – barangan yang ditransaksikan itu mampu diserahkan atau tidak; – transaksi itu dilaksanakan secara yang tidak jelas atau akad dan kontraknya tidak jelas, baik dari waktu bayarnya, cara bayarnya, dan lain-lain. Misalnya membeli burung di udara atau ikan dalam air atau membeli ternak yang masih dalam kandungan induknya termasuk dalam transaksi yang bersifat gharar. Atau kegiatan para spekulan jual beli valas.

3. Haram Ketika objek yang diperjualbelikan ini adalah haram, maka transaksi nya mnejadi tidak sah. Misalnya jual beli khamr, dan lain-lain.

4. Riba Pelarangan riba telah dinyatakan dalam beberapa ayat Al Quran. Ayat-ayat mengenai pelarangan riba diturunkan secara bertahap. Tahapan-tahapan turunnya ayat dimulai dari peringatan secara halus hingga peringatan secara keras. Tahapan turunnya ayat mengenai riba dijelaskan sebagai berikut :

Pertama, menolak anggapan bahwa riba tidak menambah harta justru mengurangi harta. Sesungguhnya zakatlah yang menambah harta. Seperti yang dijelaskan dalam QS. Ar Rum : 39 . “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”

Kedua, riba digambarkan sebagai suatu yang buruk dan balasan yang keras kepada orang Yahudi yang memakan riba. Allah berfiman dalam QS. An Nisa : 160-161 . “Maka disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.”

Ketiga, riba diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda. Allah menunjukkan karakter dari riba dan keuntungan menjauhi riba seperti yang tertuang dalam QS. Ali Imran : 130. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Keempat, merupakan tahapan yang menunjukkan betapa kerasnya Allah mengharamkan riba. QS. Al Baqarah : 278-279 berikut ini menjelaskan konsep final tentang riba dan konsekuensi bagi siapa yang memakan riba. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”

5. Bathil Dalam melakukan transaksi, prinsip yang harus dijunjung adalah tidak ada kedzhaliman yang dirasa pihak-pihak yang terlibat. Semuanya harus sama-sama rela dan adil sesuai takarannya. Maka, dari sisi ini transaksi yang terjadi akan merekatkan ukhuwah pihak-pihak yang terlibat dan diharap agar bisa tercipta hubungan yang selalu baik. Kecurangan, ketidakjujuran, menutupi cacat barang, mengurangi timbangan tidak dibenarkan. Atau hal-hal kecil seperti menggunakan barang tanpa izin, meminjam dan tidak bertanggungjawab atas kerusakan harus sangat diperhatikan dalam bermuamalat.

Current monetary system the cause of our hardships?

Is there something wrong with the current monetary system? Well, a group of academics and social activists are convinced that something is terribly wrong enough to prompt them to run a seminar on the issue.

Last Saturday, a seminar entitled “Current Monetary System is the Cause of our Hardships, Unending Rises in Prices, and Unemployed Youths and Graduates” attempts to bring some attention to their argument.


The half-day seminar in Shah Alam was organised by the Movement for Monetary Justice Malaysia (MMJ) and Malaysian Consultative Council of Islamic Organisation.

When discussing the hardship faced by the people, the organisers argued that it had never been directed towards the monetary system.

The seminar intended to discuss the ills of the current monetary system as well as to “unveil one by one, the evil of the system.

“Money is a very important tool in life today. It becomes the intermediary for the exchange of goods and services in our society. It is a necessity but at the same time, if the wrong monetary system is practised, it can be a very heavy burden on people’s lives, as well as a burden on the country and religion,” according to a document promoting the seminar.

One of the key speakers was MMJ chairman Prof Datuk Dr Ahamed Kameel Mydin Meera, a former economics professor at the International Islamic University Malaysia. He is also author of three books related to the seminar topic: Islamic Gold Dinar, The Theft of Nations and Real Money.
The other speakers included MMJ deputy chairman and former Islamic banker Muhammad Zahid Abdul Aziz, Universiti Malaya economics Prof Dr Mohd Nazari Ismail, former CEO of an Islamic bank Datuk Abdul Manap Abdul Wahab and Shariah expert Noor Derus.

MMJ describes itself as a group of academicians, ex-bankers, scholars, professionals, activists, students and ordinary people determined to reform the monetary system to ease its intense burden on the rakyat.

He Was Selling Pens on the Street to Survive—Then a Man Snapped a Photo of His Daughter…

Abdul Halim al-Attar is a Syrian refugee who was selling pens in the streets of Beirut in order to make a living for his children

But once a photo of Abdul selling his pens while holding his daughter hit the Internet, it went big-time viral. The picture featured his daughter Reem sleeping on his shoulder as he tried to market his pens to passerbys in the scorching heat. It touched people’s hearts across the globe.

The heartbreaking picture of his little one slumbering on her struggling father was almost too much for people to bear.

Now, thanks to an online crowdfunding campaign set up for him, Abdul has amassed a fund of $191,000. It was an online journalist and web developer in Norway named Gissur Simonarso who saw this man’s plight and decided he wanted to help.

He had no idea that his simple campaign would bring in nearly $200,000.

And Abdul is certainly putting it to good use. The 33-year-old father has opened 3 businesses with the new financial blessing. He started with a bakery two months ago, and later he opened a kebab shop and a small restaurant.

He went from pen seller on the street to quite the business entrepreneur, and he now employs 16 other Syrian refugees. There are approximately 1.2 million refugees registered in Lebanon, and it’s been extremely difficult for them to find jobs, so his 16 employees feel very lucky.

“Not only did my life change, but also the lives of my children and the lives of people in Syria whom I helped,” he said. He gave away about $25,000 to friends and family members in Syria.

On top of the new business ventures, Abdul has been able to move his children into a two-bedroom apartment where his 4-year-old daughter Reem and his 9-year-old son Abdullelah can now enjoy a more comfortable life.

Reem gets to play with her new plastic kitchen set and swing, and Abdullelah is back in school after being out for 3 years.

And Abdul has a newfound respect in the community as well. “They just greet me better now when they see me. They respect me more,” he said smiling.

One act of kindness by one man ignited a viral act of kindness from thousands of strangers pouring in their contributions.

What a wonderful reminder that no act for good is too small. After all, you never know when it could change someone’s entire life.

http://www.faithit.com/he-was-selling-pens-on-the-street-to-survive-then-a-man-snapped-a-photo-of-his-daughter-world-changers/#.VmOfHlsG9j5.facebook

Don’t Dismiss The EU Investigation Into Alleged Gold And Silver Price Fixing | Gold Eagle

Goldbugs are bemused by reports that the European Union competition watchdog is investigating alleged ‘anti-competitive behavior’ by participants in the precious metals market. But anybody who remembers how the EU broke up the cement cartel a couple of decades ago will know that this is a watchdog that has very powerful teeth. It’s fines can bankrupt even very large companies or banks.

Prior evidence

True the goldbugs have watched and waited in the past when various investigations into alleged precious metal price fixing have been launched in the US, UK and Germany. These investigations have quietly concluded that nothing was wrong, despite some very convincing evidence from market watchers and industry experts.

The general view in the gold community is that the central banks themselves manipulate the gold price to help dampen inflation expectations. And the central banks are above the law in such matters.

However, they may have met their match in the EU competition watchdog. According to the Treaty of Rome and its later additions, EU law is the supreme authority, and even central banks are subservient to its law.

The European Union is particularly strong on maintaining a level playing field in terms of business competition and market pricing. There was a time big cement firms thought they were above EU law, until one day investigators turned up first thing in the morning to seize documents and take away computers.

After rather a short period of time the huge fines were made, hundreds of millions of dollars that really hurt profits. The cement cartel collapsed and prices fell, and so did their share prices.

EU calling

Could the bullion banks be the next to get that knock on the door early one morning? The EU investigators could do worse than start by reading back pages of the zerohedge.com website which regularly documents the false trades used to depress gold prices that are so blatant a blind man in a coal cellar could see them.

Why are these trades initiated? Who does it? On whose orders are they operating? What is the benefit to them of these blatant price manipulations?

These are a few of the awkward questions the EU competition guys might like to put to those few players who count in the precious metals market. Could this be another cement cartel for them to bust? Why not? It is just as obvious

 

Source: Don’t Dismiss The EU Investigation Into Alleged Gold And Silver Price Fixing | Gold Eagle

How To Break Free From Materialism In 3 Distinct Ways

Our society is currently enslaved by a 9-5 alarm clock lifestyle. Pieces of paper control our every move. From the moment we are born, we are indoctrinated by our parents, our school system, the media to think that success is defined by material gain.

Happiness, contentment and relationships are secondary to income. Because our culture values material success the most, we currently live in a world that is enslaved to the dollar.

Slavery is when your work is no longer an opportunity for economic advancement but is instead an act of mere self-preservation.

Most people are owned by their material pursuits, and spend their entire lives trying to pay off debt they earned from purchases and bills that have piled up over the years.

If you are reading this, there is a good chance you work a 9-5 job and are sick of it. Maybe your are psychologically trapped in a world of numbers and material concerns and want to break free from mental slavery.

Whatever your specific situation is, the truth is that the vast majority of people who read this are fed up with debt, long work hours and being programmed by advertisements to buy things they don’t need.

The good news is, just because you live in a consumerist society doesn’t mean you have to live as a consumerist.

Here are 3 ways you can break free from materialism and reclaim your soul:

  1.  Leave The Rat Race
  • Who wrote the rule that said we have to work 9-5 Monday through Friday?
  • Who wrote the rule that we have to graduate school and hop right into a full time job?
  • Who wrote the rule that said we have spent 40 years of our life working full time and can only retire when we are 60 or 70?

You don’t have to do what society thinks you should do, and you don’t have to do what your parents think you should do. If you are sick of the rat race, then leave it.

Nobody is putting a gun to your head forcing you to work 40 hours a week at a job you don’t like. But the bills need to be paid, right? That brings us to the next point.

2)  Don’t Live To Impress

The only reason we need to work 40 hours a week is because we buy things we don’t need with money we don’t have to impress people around us. Because we are taught that success and value is defined in material terms, we figure we need to accumulate as much possessions as we can.

If you cut your expenses in half and lived for yourself, you would only have to work half of the hours you work now.

  • Do you really need to finance that new car? Or should you buy a used one?
  • Do you really need to live in a 2000 square foot house with all new appliances?
  • Do you really need that new television?
  • Or those designer clothes?
  • The newest iPhone?
  • That expensive laptop?

A lot of the times, we enslave ourselves because our egos want to be seen as successful in the eyes of other people. We define our sense of worth and value on how we measure up to other people.

In the same way kids on the playground used to say “My dad can beat up your dad”, adults say “My houses is nicer than your house.”

As you can see, some people don’t grow out of this playground mentality. And because of this, many people live paycheck to paycheck. This pursuit of egoic self-glorification is ultimately what enslaves us to the dollar and steals our happiness. This brings us to the next point.

3)  Transcend The Material

Don’t define yourself in relation to other people, the materials you own, or the lifestyle you live. Define yourself in relation to your relationship with yourself and with God.

  • Are you spiritually fulfilled?
  • Do you feel whole and peaceful inside?
  • If not, how can this be called success?

Once you experience the part of yourself that is deeper than the material, the material world is a joke to you. Once you tap into that infinite space of grace and peace during meditation or communion with nature, there is no longer a need to carry on with the endless pursuit of material gain.

How many Buddhist monks do you think are in debt up to their eyeballs?

The same culture that tells us success is measured by material success is also the most unhappy, overweight, stressed out and in debt culture in the world. Suicide is currently the 10th leading cause of death in America. I suspect a good percentage of depression comes from people being bright up in a dead-end society that is hollow, boring, consumer driven, spiritually void and enslaved to a piece of paper.

You don’t have to be a slave to capitalism, materialism, or consumerism. Be brave. Ditch the rat race, live within your means, know when it’s time to scale down and start practicing yoga or meditation, and you will open yourself up to a whole new world of possibilities you didn’t even know was there.

Antara Rahmah Muamalah dan Monopoli Riba

RM35 Awam | RM20 Pelajar
24 Mei 2015 | 2 pm – 4 pm | Qaiser Darussalam Bookstore & Islamic Academy

Alhamdulillah! Buat julung kalinya, Koperasi Az Zahabi Selangor akan mengadakan satu majlis ilmu yang akan membincangkan pelbagai isu berkaitan dengan apa yang kita sedang hadapi kini.

Kita akan gabungkan pakar-pakar kewangan Islam daripada Malaysia dan Singapura bersama-sama seorang Ustaz dalam bab fekah muamalah, agar perkongsian ini lebih holistik dan dapat diaplikasikan di dalam kehidupan seharian insyaAllah.

Scuba Divers Discover Buried Treasure

bit.ly/DiverDinars

Amateur scuba divers have found an enormous cache of gold coins off the Israeli coast

It’s an age-old plot device from a scuba diving-related story: amateur divers accidentally stumble across treasure on the bottom of the ocean while out diving, and drama ensues. But of course, that sort of thing wouldn’t happen in real life — or would it?

Amateur divers discovered nearly 2,000 gold coins near Caesarea off of Israel’s Mediterranean coast

There may not be any dramatic boat chases or seedy black-market bosses, but life did imitate art this week when a group of amateur divers discovered nearly 2,000 gold coins near Caesarea off of Israel’s Mediterranean coast.

The coins are estimated to date back some 900 years, from the time of the Fatimid Caliphate. This dynasty ruled the North African coast from the Red Sea to the Atlantic, and had its central government in present-day Egypt. The coins are reported to be in surprisingly good condition; some of them even show teeth marks from where a previous owner tested them for authenticity.

The coins are of varying denominations, including dinars, half dinars and quarter dinars.

The amateur divers practically stumbled upon the treasure while out diving, and while they first believed the coins to be toys, they quickly realized that they were genuine. They immediately alerted the authorities, which then raised the coins, all 13 pounds of them.

That the coins were found quite close together, as well as the history of Caesarea as an important port during the time of the Fatimid Caliphate, leads archeologists to speculate that it’s very likely that there’s a wreck from the period still to be discovered, perhaps a tax-collection ship returning to Egypt or a wealthy merchant ship.

Despite their discovery, the lucky divers do not get to keep any part of it. The Israel Antiquities Authorities describe the find as “priceless,” and states, like many similar laws around the world, that any antique findings made on their lands or in their waters belongs to the state, and that keeping any part of it, or failing to report it to the proper authorities is illegal. In Israel, the maximum penalty for keeping antiquities found is up to five years imprisonment.

Impressively, even after over 1,000 years on the bottom of the sea, the coins require no restoration. Because gold is a noble metal, it, unlike silver, doesn’t react with the salt in the ocean water. The Israeli authorities will now investigate the area, hoping to find the remains of the suspected wreck, or to recover any other artifacts that may be nearby.

Speculation about the amount of lost gold in the world’s oceans varies wildly, and an exact amount is near impossible to calculate. But even the more cautious estimates climb well into billions of dollars. Three shipwrecks were reportedly located in 2012 alone, the combined cargo of which is speculated to be $4.5 billion dollars.

Mengapa Saudi Arabia Tidak Pakai Dinar Dirham

Mengapa.Saudi.Arabia.Tidak.Pakai.Dinar.Dirham.

Sufyan al Jawi – Numismatik Indonesia

Banyak yang suka bertanya: mengapa Pemerintah Saudi Arabia memakai uang riyal kertas, dan bukan Dinar dan Dirham? Ini sebagian jawabannya.

Untuk menjawab pertanyaan mengapa Saudi Arabia memakai uang kertas riyal, dan bukan Dinar emas dan Dirham perak, kita perlu mengetahui posisi kerajaan ini. Pada mulanya wilayah Hijaz adalah bagian dari Daulah Utsmaniah yang, tentu saja, menggunakan Dinar emas dan Dirham perak sebagai mata uangnya. Pada pertengahan abad ke-18, sebuah amirat lokal, dipimpin oleh amirnya, Muhammad ibn Sa’ud (meninggal 1765), menguasai suatu desa yang kering dan miskin, Dariyah. Karena kegiatannya yang selalu membuat onar, dan mengganggu jamaah haji, kelompok Al Sa’ud terus-menerus dalam konflik dengan pemerintahan Utsmani.

Beberapa tahun kemudian, berkat bantuan seorang broker politik, Rashid Ridha namanya murid dari Muhammad Abduh, untuk memperkuat rong-rongan terhadap Istambul, anak cucu Ibn Sa’ud membangun aliansi dengan Pemerintah Kolonial Inggris. Aliansi ini terjadi pada masa Sa’ud bin Abdal Aziz, anak Abdal Aziz Ibn Sa’ud, cucu Muhammad ibn Sa’ud. Untuk perannya ini Ridha ‘menerima imbalan 1,000 pound Mesir untuk mengirimkan sejumlah utusan ke provinsi Arab di [wilayah] Utsmani untuk memicu pemberontakan,’ pada 1914.

Ketika itu Ridha juga telah mendirikan sebuah organisasi lain, Liga Arab (Al-jami’a al-arabiyya), dengan tujuan menciptakan ‘persatuan antara Semenanjung Arabia dan provinsi-provinsi Arab di Kekaisaran Utsmani’. Agenda organisasi ini adalah pendirian ‘Kekhalifahan (Konstitusional) Arab’, suatu rencana yang tidak pernah terwujudkan. Yang lahir kemudian adalah Kerajaan Saudi Arabia.

Berkat kolaborasi antara Sa’ud bin Abdal ‘Azziz – dengan legitimasi teologis dari Wahabbisme, atau ajaran Syekh Muhammad ibn Wahhab – dan pelindungnya Winston Churchil, PM Inggris ketika itu berdirilah kemudian sebuah kerajaan nasional di tanah Hijaz, pada 8 Januari 1926. Pada 1932 Tanah Hijaz, yang semula merupakan bagian dari Daulah Utsmani, oleh rezim yang baru ini secara resmi dinamai: Sa’udi Arabia! Inilah satu-satunya negara di dunia ini yang mendapat nama dari nama seseorang. Salah satu mata rantai awal pemberontakan ini sendiri, adalah Amir di Najd waktu itu, Abdullah Ibn Sa’ud, berhasil ditangkap dan akhirnya dipancung di depan istana Topkapi, di Istanbul, setelah diadili dan dinyatakan sebagai seorang zindiq, pada 1818.

Meninggalkan Muamalat

Sejak awal, Pemerintahan Saudi Arabia, merupakan sekutu kekuatan Kristen-Barat (semula Inggris, kemudian Amerika Serikat), dan menjadi semakin erat dengan ditemukannya minyak pada tahun 1950-an. Beroperasinya perusahaan minyak raksasa (Aramco = Arabian-American Oil Company) yang markas besarnya di Dahran, di tempat yang sama dengan Pangkalan Militer AS (berdiri 1946), di Hijaz, merupakan simbol dan sekaligus sumber kekuasaan Rezim Sa’ud sampai detik ini. Semakin hari kita ketahui Rezim Saud makin meninggalkan muamalat, dan mengislamisasi kapitalisme barat.

Raja Abdul Aziz bin Sa’ud, pendiri Saudi Arabia, berkuasa penuh mulai tahun 1926 sampai 1953. Pada mulanya, setelah memasuki Mekkah (8 Jumadil Ula 1343 H), beliau menolak berlakunya sistem uang kertas di wilayahnya, setelah memusnahkan uang kertas lira Turki sekuler yang beredar di Haramain. Pada masa dia memerintah jamaah haji dari penjuru dunia menggunakan belbagai jenis koin emas perak dari negerinya masing-masing. Namun koin dinar Hashimi dan real perak Austria – Maria Theresa, juga riyal perak Hijaz yang paling populer di sana.

Maka, pada tahun 1950-an, sempat populer di Amerika Serikat, anekdot kisah Raja Abdul Aziz yang selalu membawa harta kerajaan yang berupa koin emas-perak kemanapun dia pergi� bagaikan orang kolot dan primitif. Namun setelah dia wafat, penggantinya, Raja Sa’ud bin Abdul Aziz (1953-1964), bersikap lain. Sejak ia berkuasa, Pemerintah Kingdom of Saudi Arabian (KSA) mendirikan bank sentral yang bernama: Saudi Arabian Monetary Agency (SAMA) dan menerbitkan uang kertas riyal pada tahun 1961 melalui Dekrit Kerajaan 1.7. 1379 H, dalam pecahan 1 – 100 riyal.

Raja tergiur menerbitkan uang kertas karena lebih menguntungkan daripada mencetak koin-koin riyal perak. Ide uang kertas diambil dari keberhasilan SAMA atas penerbitan uang kertas receipt yang berlaku dalam uji coba pada musim haji sepanjang tahun 1953-1957. Dengan menerbitkan Haj Pilgrim Receipt dalam satuan riyal perak, SAMA mulai menarik semua jenis koin emas dan perak yang beredar di Haramain. Para jamaah haji dari luar negeri pun diwajibkan menukarkan koin emas perak yang mereka bawa. Setelah populer, kupon haji itu pun kemudian dinyatakan tidak berlaku lagi sejak Oktober 1963 dan finalnya tanggal 20 Maret 1964, diganti dengan uang kertas riyal.

Celakanya sejak saat itu, ONH atau BPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji) wajib dibayar dalam uang kertas dolar AS, bukan dengan uang kertas riyal! Sebab Kerajaan Saudi Arabia telah menyepakati pula berlakunya perjanjian Bretton Wood (1944), yang menyatakan bahwa dolar AS adalah satu-satunya mata uang yang berlaku untuk transaksi internasional. Segala transaksi dengan koin dinar Hashimi dan riyal perak (1 riyal = 4 dirham), termasuk koin real Maria Theresa di batalkan oleh negara. Maka umat Islam sedunia berduka atas dibrangusnya mata uang syar’i: dinar dirham.

Genaplah sudah makna hadis dengan lafal berikut: “Tak seorang pun manusia yang tidak memakan riba” yang diriwayatkan oleh Abu Daud, semoga Allah merahmatinya. Dinar dan Dirham diberangus sampai dua kali, pertama 1914 oleh Sultan-sultan boneka sisa Daulah Utsmani (Turki), dan kedua 1964 oleh KSA tersebut di atas. Tapi para ulama belum dapat mengambil kesimpulan dari terbitnya uang kertas riyal ini, tentang status halal-haramnya uang kertas. Sampai, akhirnya, diterbitkan fatwa tentang uang kertas, pada tahun 1984, yang menyatakan bahwa uang kertas adalah halal.

Begitulah, sejauh sejarah Islam dapat kita ketahui, fatwa Saudi Arabia yang menghalalkan uang kertas, satu-satunya fatwa resmi dari suatu pemerintahan (“Islam”) di dunia ini. Tetapi, kisah ringkas sejarah ekonomi politik Saudi Arabia sebagaimana diuraikan di atas, kiranya cukup menjelaskan mengapa Saudi Arabia menggunakan riyal kertas, dan bukan Dinar emas dan Dirham perak.